Monthly Archives: March 2014

Edel Quinn

PERZIARAHAN HIDUP EDEL QUINN

Edel Q Prayer001Edel Quinn dilahirkan di Greenane, Kantruk, Co.Irlandia pada tanggal 14 September 1907. Ayahnya, Charles Quinn, adalah seorang manajer Bank Nasional yang selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain setiap kali ada promosi baru.

Suster Elizabeth RSM seorang guru yang pernah mengajar Edel, mengatakan bahwa Edel adalah orang yang sangat cantik, rajin, adil, berambut ikal, Good-Humoured,dan selalu bersemangat. Ibunya Louis Burke Browne adalah seorang Katolik yang saleh, setiap hari ia menghadiri Misa, dan dari ibunyalah dan beberapa gurunya yang sangat mempengaruhi perkembangan spiritualitasnya. Edel adalah anak pertama, ia mempunyai tiga adik perepempuan; Leslie, Mona, Dorothea, dan satu laki-laki yaitu Raphael.

Edel yang menerima Komuni Pertama pada tahun 1916, juga menjadi orang yang paling rajin mengikuti misa harian sama seperti ibunya, Misa dan Komuni Kudus adalah pilar seluruh karya dan kehidupannya. Keheningan doa Pagi dan malam, Pengakuan dosa secara reguler dan Devosinya yang mendalam dalam Adorasi menyertai perkembangan kehidupan spiritualitasnya.

Bagaimanakah kegiatan Edel diluar, Edel adalah seorang yang sangat popular, wajahnya yang cantik natural , dan segudang prestasi dalam olahraga tennis, Atletik, Golf, Renang, pemain Piano, Pemain Biola, Olah Vokal dan kemampuan acting, dan yang lebih penting kepribadiannya yang sangat menarik, terbuka, tidak egois, simpati dari hati kepada pendidikan dan kerendahan hatinya sungguh sangat menarik orang.

Pendidikan terakhirnya adalah di English Boarding School yang dikelola oleh suster-suster FCJ, Disana ia sangat terkenal dan sangat dihargai karena kepintarannya, bakatnya dalam cabang-cabang olahraga memberikan kesan yang mendalam baginya, ia selalu menjadi kapten dalam teamnya, salah seorang gurunya mengatakan “pengaruhnya di kelas tidak hanya menyehatkan tapi membangkitkan semangat”

Ketika ia ke Belanda, ia menjadi tertarik dengan kehidupan biarawati, keheningan doa yang kushuk, dan dedikasi spiritual yang tinggi membuat ia tertegun. Dalam hatinya, ia memutuskan untuk menjadi biarawati dan mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.Keadaan Ekonomi di Irlandia saat itu sedang kacau, demikian juga ekonomi keluarganya, setelah tamat sekolah, ia bekerja sebagai sekretaris pada sebuah perusahaan tembakau di Dublin agar dapat masuk biara. Edel sangat terkejut ketika pemilik perusahaan mengatakan bahwa ia mencintainya dan ingin menikahinya, namun dengan sopan Edel menjelaskan bahwa ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan melalui Kehidupan Religius.

Saat ini, kondisi ekonomi keluarganya menurun, jadi Edel harus bisa mencari uang sendiri untuk bisa masuk biara.Pada tahun 1927, ketika ia berusia 20 tahun ia aktif dalam “Loreto Convent Sodality” yaitu sebuah perkumpulan utuk membantu anak-anak miskin, dimana kepandaiannya dalam musik sangat dibutuhkan. Suatu hari pada suatu Pertemuan ini, menjadi “Turning life” (titik balik) dari kehidupannya, Edel diajak oleh seorang anggota Legioner bernama Mona Tierney, untuk menghadiri Rapat Mingguan pada sebuah Presidium baru Legio Maria.Kardinal Suenens menulis “suasana rapat, diamana doa dan karya bersatu, sangat kuat menarik Edel, pada sebuah kelompok kecil, dia telah diperkenalkan dengan semangat laksana pada Ruang Atas di Jerusalem, Gereja Perdana…, Edel merasakan bahwa aksi kerasulan masih berjalan dan saat ini melintas di matanya. Segera ia memutuskan untuk dapat diterima sebagai Legioner”Dedikasi Edel yang luar biasa segera saja terdengar sampai kepada Konsilium Legionis, Badan Tertinggi Legio Maria, dan Frank Duff, Pendiri, memintanya untuk memimpin sebuah Presidium yang berkarya untuk menyelamatkan moral dalam dunia Prostitusi di Dublin. Edel menerima tugas ini dengan semangat “patuh tanpa syarat” tunduk setia pada atasan dan bertanggung jawab pada Sancta Maria Hostel dimana kebaikan dan simpatinya yang luar biasa mengatasi segala rintangan-rintangan yang ada dalam pengelolaan rumah singgah itu.Edel yang rajin membaca buku, sangat terkesan dari sebuah buku tentang “Santa Teresia dari Lisieux” yang telah mempersembahkan hidupnya dalam kesucian yang tersembunyi dengan melakukan sesuatu sesempurna mungkin dan mencari kesempatan untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan kecil yang tersembunyi. Buku-buku lain yang sangat membantu perkembangan spiritualitasnya adalah sebuah karangan Santo Yohanes dari Salib dan sebuah buku karangan Santo Louis Marie de Monfort, setiap hari ia membacanya kira-kira 30 menit sebelum Adorasi dan Doa Rosario.Pada tahun 1932, dengan bantuan sekuatnya dari keluarganya, ia memutuskan untuk masuk biara Poor Clare Sister, dan ia diterima. Namun dalam masa-masa persiapannya, ia jatuh sakit dan oleh pihak Rumah Sakit ia divonis menderita Tuberculosis, penyakit yang sangat mematikan saat itu. Selama 18 bulan ia harus menjalani pengobatan pada sanatorium.Tentu saja banyak biaya yang harus dikeluarkan keluarganya untuk pengobatan ini, tetapi kondisi Edel tidak berubah, dan Edel memutuskan untuk keluar, Ia masih bisa berkarya aktiv dan masih diperlukan tenaganya, tetapi untuk sementara ia hanya menjalankan tugas-tugas ringan dari presidium.

 

Waktu terus berjalan Legio Maria semakin berkembang keseluruh Irlandia dan ke dunia. Pada tahun 1936 Konsilium Legionis, Dublin meminta Edel untuk menjadi envoy/utusan/duta Legio ke Afrika Timur. Beberapa Legioner di Dublin mengkhawatirkan kondisi Edel atas permintaan Konsilium Legionis untuk karya misi yang sangat berbahaya baik bagi kesehatannya ataupun keselamatannya di Afrika itu. Tetapi Frank Duff berpikiran lain, menurutnya kondisi iklim di Afrika justru akan baik untuk kesehatannya, ia telah mengenal seorang yang sangat berkualitas dan mempunyai banyak potensi yang luar biasa, “ kalian tidak bisa membiarkan burung lincah ini untuk berdiam di sangkarnya, ia harus diberi kesempatan, Edel akan membuat sebuah sejarah apabila ia dibebaskan” tegas Frank Duff.Edel dengan gembira menerima tugas ini, ia berangkat pada tanggal 24 Oktober 1936, ia mengucapkan selamat jalan kepada para rekan-rekannya dan berkata “saya tidak akan kembali”. Setelah itu sebuah surat diterima Frank Duff, Edel menulis “Apapun konsekwensinya, suka cita yang anda imani dan keberanian untuk membawa kasih Allah, dalam pilihan-Nya terhadap sesuatu yang lemah.”Delapan tahun kemudian, Pusat karya misi Edel di Afrika Timur dan Afrika Selatan berada di Nairobi, Kenya. Dari sana Edel menempuh beribu-ribu kilometer tak menghiraukan kesehatannya melewati jalan-jalan yang payah, Uganda, Tanzania, Malawi, Zimbabwe, Afrika Selatan bahkan sampai Mauritius, samudra India.Para Misionaris lokalpun cepat menerima Edel dengan kehangatan, Edel menjelaskan, melatih, dan mengorganisir beberapa presidium baru. Kemauan yang kuat dan kemampuan Legioner lokal yang baru direkrutnya semakin meringankannya, mereka ditugaskan berdua-dua kedesa-desa, menjadi katekis bagi anak-anak, dan mengajar katekumen, mengunjungi orang-orang sakit, meninggal, dan mencoba mendekatkan hubungan orang-orang non-Kristen dengan para imam.Edel juga terus mengirim laporan ke Dublin dewan atasannya, dalam salah satu laporannya, ia menggambarkan pada suatu Malam Natal “Gereja penuh sesak dengan orang-orang Afrika, kira-kira 1.500 orang, mereka bernyanyi, suatu yang indah melihat anak-anak Afrika dengan tertib dan disiplin mengikuti perayaan, pada saat Komuni tentu saja harus antre panjang seperti kereta api, dua orang imam melayani Komuni sampai lama, itu adalah pemandangan yang tidak terlupakan, melihat orang-orang Afrika bernyanyi dengan bahasa Latin dan Credo yang kadang-kadang tidak cocok.” Suatu hari pada tahun 1937, seorang imam Belanda sedang mengantar Edel menuju ke sebuah rapat Legio Maria beberapa mil jauhnya dari tugasnya di tanah misi Afrika. Mereka sampai di seberang sungai dengan banjir besar yang meluap sehingga jembatan penyeberangan tidak kelihatan, Pastor itu hampir saja berbalik ketika gadis itu (Edel) berseru, “O..Pastor, ayo terus berjalan, saya yakin bunda kita akan melindungi kita”. Pastorpun menjadi heran, tetapi ia tidak bisa menahan diri terhadap iman yang sedemikian besar itu. Beberapa pria yang ada di situ membentuk sebuah rantai manusia untuk mejadi tanda bahwa jembatan itu masih ada disana. Maka iapun maju terus tanpa melihat jembatan. Air memenuhi mesin, tetapi semangat mereka justru berhasil menyeberangkan mobil itu sampai seberang sungai. Ia mengeringkan karburator dan mencoba menghidupkan mesin lagi, mobil itu berhasil dihidupkan lagi dan mereka tiba pada rapat itu tepat waktu.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Edel memang besar, tetapi dia menghadapi setiap tantangan dengan iman yang tak tergoyahkan dan keberanian yang besar. Ketika orang lain menjadi lemah iman, tanggapannya adalah “Mengapa kita tidak mempercayai bunda kita?”

Hal yang mendasari segala kegiatan Edel adalah kesatuan yang mendalam dengan Allah yang dipupuk melalui doa yang terus menerus. Ekaristi adalah pusat dari hidupnya; “sungguh suatu hidup yang kosong jika tidak ada Ekaristi”, demikian tulisnya. Devosinya kepada Perawan Maria ditandai dengan sebuah keyakinan seorang anak terhadap ibu dan kemurahan hari yang luar biasa.

Dengan jumlah presidia yang ada, Edel bergerak maju, menemui para uskup dan imam, dan terus membentuk presidium-presidium baru dan melakukan konsolidasi-konsolidasi yang diperlukan. Dengan beberapa presidium disuatu wilayah di sekitar Pantai Danau Victoria, ia membentuk Kuria pada tanggal 4 April 1937 yang langsung dibawah Konsilium Legionis, Dublin.

Beban perjalanan misi Edel diringankan karena kini Legio memiliki sebuah mobil kecil, salah seorang imam misionaris mengatakan “ Jalanan sungguh sangat berdebu dan ketika hujan juga tak mungkin untuk dilalui, mobil Edel yang hanya memuat dua orang saja, suara bising mobilnya memecah keheningan Afrika, telah menjadi suatu bunyi kehangatan dalam misi-misi sunyi, ia membawa kebahagiaan kemanapun ia pergi, energinya luar biasa, teman-temannya mengatakan bahwa ia tak mungkin istirahat bahkan di saat terik matahari disiang hari, itu karena karyanya lebih banyak dari pada waktu yang ia punya.”

Hari terus berjalan, suatu hari ia terbaring lemah karena penyakit yang ia derita, Tuberculosis dan Malaria, pneumonia, disentri. Tetapi kemauannya untuk kembali berkarya melupakan dirinya sendiri, komitmennya dalam kerasulan yang luar biasa dan kepercayaannya pada kekuatan Ekaristi.

Namun, tahun tahun di Afrika sungguh sangat menguras tenaganya, Suster-suster di sebuah biara di Malawi dikejutkan dengan kedatangan Edel dengan keadaan lemah, bayangan kematian dan sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Para suster membaringkannya dan melakukan sedapat mungkin apa yang bisa dilakukan, mengobati demamnya dan berdoa untuk kesembuhannya, salah seorang suster (seorang Franch-Canadian), menunggunya sepanjang malam, dan pagi harinya Edel sudah dapat bernapas dengan lebih mudah. Ketika suster itu melangkah dengan tenang supaya tidak mengganggu istirahat Edel, Edel terbangun dan berkata “Suster, saya tahu suster berpikir bahwa saya akan meninggal malam ini, jangan khawatirkan saya suster, Bunda Maria mengatakan kepada saya bahwa saya masih punya kesempatan lagi untuk berkarya untuknya”.

Menjelang tahun 1943, karya Edel semakin meluas keseluruh Afrika Timur dan Afrika Selatan. Legio Mariae telah membuktikan dirinya membawa kehidupan baru dan perkembangan di paroki-paroki, sebagai perpanjangan tangan dari para imam hingga sampai ke sudut-sudut umatnya yang jauh dari jangkauannya.

Dibawah kepemimpinan Edel, semakin banyak orang yang bersemangat dalam kerasulan, sebagaimana pertumbuhan doa dan kekudusan para anggota.

Pada tanggal 6 Maret 1944, dalam jadual perjalanan yang melelahkan, Edel berangkat dalam 18 jam perjalanan kereta api dari Nairobi ke Kisumu. Namun lagi-lagi kesehatannya menurun, dan ia harus kembali ke Nairobi padatanggal 11 April 1944.

Pada tanggal 9 Mei 1944, ia mengirim surat kepada Frank Duff “saya susah untuk bergerak akhir-akhir ini……., saya berdoa untuk perjalanan saya ke Kisumu dan Kuria disana, …”

Kemudian, setelah bertahan dari serangan jantung yang ia derita, pada malam 12 Mei 1944, ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan bisikan lirih dimulutnya yang suci “ Yesus, Yesus, Yesus” diikuti nama ibunya “Bunda Maria, Bunda Maria, Bunda Maria”.Ia dimakamkan di Pemakaman Missionaris di Nairobi.

 

PROSES PENGANGKATAN MENJADI ORANG KUDUS

Edel Quinn adalah Envoy (Utusan) Legio Mariae ke Afrika Timur dari 30 Oktober 1936 sampai 12 Mei 1944.

Pada tahun 1957 Uskup Agung Nairobi memprakarsai proses beatifikasinya dan banyak kesaksian diteliti baik di Afrika maupun di Irlandia, bukti mereka yang dipublikasikan oleh Tahta Suci menunjuk tidak hanya pada kesuciannya yang unggul tetapi kesucian dalam bentuk yang paling menarik. Kata-kata cinta, sukacita dan damai selalu muncul hampir dalam semua kesaksian. Vikaris Jenderal Mauritius berbicara kepada banyak orang “saya ingin memberikan penekanan khusus pada sukacitanya yang tanpa henti; dia selalu tersenyum, dia tidak pernah mengeluh, dia selalu siap sedia membantu dan tidak pelit dengan waktunya”

Tahta Sucilah yang akan memutuskan mengenai kesucian heroiknya. Sementara itu ratusan uskup telah menulis kepada Bapa Suci untuk mendukung proses beatifikasinya, sebagian besar dari para uskup menekankan relevansi khusus Edel bagi orang-orang muda dimasa kita. Edel dalam kata-kata seorang Kardinal Spanyol “Adalah gambaran dari anak muda sejati Gereja”

Edel Quinn, “Ia mengisi misinya dengan devosi yang luar biasa dan keberaniannya untuk menyentuh setiap hati, ia meninggalkan Legio Mariae dan Afrika dalam karya agungnya sepanjang hidup. Paus Yohanes Paulus II sendiri mengakui dan menghormati karya, pelayanan yang luar biasanya kepada Gereja”

Pada tanggal 31 Desember 1994, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II dalam pertemuan khusus para kardinal dan Anggota Kongregasi untuk Penggelaran Nama Kudus membuat sebuah deklarasi : “Sudah selayaknya, The Servant of God Edel Mary Quinn, seorang Perawan Legio Maria dengan mempraktekkan nilai-nilai theologies Iman, Kasih dan Harapan dengan jiwa kepahlawanannya kepada Tuhan dan sesama ……”, setelah itu Bapa Suci memberikan gelar untuknya Venerabilis.

Bapa Suci memerintahkan untuk mempublikasikan dan untuk memberikan prioritas sejauh mungkin kedalam aksi Kongregasi.”

Frank Duff

Kehidupan Awal

Frank_DuffFrank Duff lahir di Dublin tanggal 7 Juni 1889 sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara pasangan suami istri John Duff dan Susan Frehill dengan nama asli Francis Michael Duff. Pada umur 18 tahun dia menjadi pegawai negeri sipil dan bekerja di departemen keuangan. Sebagai seorang yang sangat dikenal sebagai jagoan matematika, masa depannya pasti sangat cerah di departemen yang basah itu. Namun dalam usia 24 tahun dia bergabung dalam Serikat Santo Vincentius (SVP=Saint Vincent de Paul Society) yang kemudian sungguh-sungguh mengubah hidupnya.[2]

Frank Duff dan Bakti Sejati

Sejak masa mudanya, Frank Duff merupakan seorang katolik yang saleh. Dia menjalankan 10 perintah Allah, hadir misa secara teratur, dam juga berdevosi kepada Bunda Maria. Namun dia tidak mempunyai pemahaman yang memadai tentang dasar-dasar devosi kepasa Bunda Maria dan juga tidak sungguh-sungguh mempunyai pehatian dan minat terhadap peran Maria dalam rencana penyelamatan Allah. Namun tahun 1918 dia menemukan buku Bakti Sejati karya St.Louis Marie de Montfort. Baginya, tahun itu merupakan tahun rahmat Allah.

Frank Duff dan Lahirnya Legio Maria

Saat itu, Anggota SSV semakin banyak maka mereka memutuskan untuk membaginya menjadi dua dan salah satu kelompok bermarkas di Myra-House dengan ketuanya Frank Duff. Pastor Paroki setempat, yaitu Pater Michael Toher ikut bergabung dalam kelompok itu. Dalam kelompoknya, Frank Duff selalu menyertakan pembahasan buku Bakti Sejati dalam setiap pertemuan bulanan SSV dan para anggota terlibat dalam diskusi yang hangat dan antusias. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengagendakan waktu khusus untuk membahas buku Bakti Sejati dan ajaran St. Montfort. Rencana itu terlaksana dengan baik dan mendapat tanggapan yang antusias dari para hadirin.

Dalam pertemuan SSV berikutnya, seorang anggota memberikan laporan yang menarik tentang kunjungannya di Rumah Sakit Dublin. Pada saat itu, tugas kunjungan ke rumah sakit itu hanya dilakukan oleh laki-laki. Sesudah pertemuan itu, dua wanita mendekati Frank Duff dan Pastor Michael Toher, untuk menanyakan apakah wanita juga boleh mengambil bagian dalam kunjungan ke rumah sakit? Permintaan para wanita itu mendapat restu dari Frank Duff dan Micahel Toher dan kedua laki-laki itu meminta kalau bisa menarik beberapa wanita lainnya untuk bergabung. Lalu mereka berjanji untuk bertemu (membahas kegiatan para wanita itu di rumah sakit) tgl 7 September jam 8 malam. Pada waktu yang telah ditentukan, berkumpullah 13 wanita yang mayoritas gadis muda, Pastor Michael Toher dan Frank Duff. Tak seorang pun yang sadar bahwa hari yang mereka tentukan adalah malam menjelang Pesta Kelahiran Bunda Maria.

Akhir Hidup Frank Duff

Hal yang terindah atau boleh dikatakan paling membanggakan dari kehidupan Frank adalah ketika dia diundang sebagai peserta awam dalam Konsili Vatikan II di Roma tahun 1965. Dia secara khusus diundang karena dia merupakan salah satu tokoh awam yang sangat berpengaruh dan berjasa melalui karya Legio Maria di dalam Gereja dan masyarakat. Dalam salah satu sessi diskusi, Frank di perkenalkan oleh Kardinal Heenan dari Inggris di hadapan 2500 uskup dari seluruh dunia. Dalam pertemuan pribadinya dengan Paus Paulus VI tgl 11 Desember 1965, Sri Paus berkata: “Tuan Duff, saya ingin berterima kasih kepadamu atas pelayananmu untuk Gereja dan ingin menyatakan penghargaan saya atas segala yang telah dilakukan Legio Mariae. Tahun 1979 Frank masih mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II atas undangan Sri Paus ke Vatican. Dan akhirnya dia mengembuskan nafas terakhirnya tgl 7 November 1981 dalam usia 91 tahun.

Penggelaran Nama Kudus

Pada bulan Juli 1996, proses Penyelidikan untuk Penggelaran Nama Kudus diperkenalkan oleh Uskup Agung Dublin; Kardinal Desmond Connell.

Agenda Kerja Senatus Sinar Bunda Karmel Malang 2014

AGENDA KERJA SENATUS SINAR BUNDA KARMEL MALANG 2014

Tanggal Rapat Laporan Tahunan Laporan Kunjungan Presidium Laporan Dewan Laporan Kunjungan Dewan Kegiatan Presidium/dewan bertugas menyiapkan ruang rapat*
5 Januari 2014 Presidium Pengantara Segala Rahmat Batu Presidium Rhena Rosari Donomulyo-Malang selatan
  1. Regia Bunda Kristus Maumere
  2. Komisium Ratu Semesta Alam Surabaya
  3. Kuria Maria Asumpta Ijen
  4. Kuria Maria Tak Bercela Jember
  5. Kuria Ratu Para Rasul Bali
  6. Kuria Bunda Penebus Merauke

 

Kuria Maria Angelorum Blimbing
  • Misa Tutup dan Buka Tahun (5 Januari 2014) Tempat: Aula Frateran BHK. Koordinator: Kuria Maria Angelorum Blimbing
  • Rapat Panitia Pesta Emas di Aula Frateran BHK jam 13.00
Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Langsep
2 Februari 2014 Presidium Rhena Rosari Donomulyo-Malang selatan Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Langsep
  1. Regia Maria Diangkat Ke surga Kupang
  2. Komisium Hati Tersuci Manado
  3. Kuria Maria Angelorum Blimbing
  4. Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi
  5. Kuria St. Perawan Maria dari Medali Wasiat Lombok
  6. Pra Kuria Ratu Semesta Alam Timika
Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul Malang Rapat Panitia HUT 50thn Senatus Malang di Aula Frateran jam 12.30 Presidium Bintang Timur Landung Sari
2 Maret 2014 Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Langsep Presidium Mater Pauperum Pasuruan
  1. Regia Ratu Para Rasul Semarang
  2. Komisium Ratu Rosari Makasar
  3. Kuria Maria Menerima Kabar Gembira Madura
  4. Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul Malang
  5. Kuria Tabut Perjanjian Jayapura
  6. Pra Kuria Maria Bintang Timur Ambon
Kuria Maria Asumpta Ijen
  • ACIES Koordinator: Kuria Maria Asumpta Ijen (31 Maret 2014)

 

  • Rapat Panitia HUT 50thn Senatus Malang di Aula Frateran jam 12.30
Presidium Tahta Kebijaksanaan Kepanjen
6 April 2014 Presidium Mater Pauperum Pasuruan Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Bangil
  1. Regia Bunda Kristus Maumere
  2. Komisium Ratu Semesta Alam Surabaya
  3. Kuria Maria Asumpta Ijen
  4. Kuria Maria Tak Bercela Jember
  5. Kuria Ratu Para Rasul Bali
  6. Kuria Bunda Penebus Merauke
Kuria St. Perawan Maria dari Medali Wasiat Lombok
  • PASKAH dirayakan setiap Kuria
  • Rapat Panitia HUT 50thn Senatus Malang di Aula Frateran jam 12.30
Presidium Bunda Gereja Lawang

4     Mei 2014

  1. Presidium Bunda Penolong Manokwari
  2. Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Bangil

 

Presidium Rhena Rosari Donomulyo-Malang selatan
  1. Regia Maria Diangkat Ke surga Kupang
  2. Komisium Hati Tersuci Manado
  3. Kuria Maria Angelorum Blimbing
  4. Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi
  5. Kuria St. Perawan Maria dari Medali Wasiat Lombok
  6. Pra Kuria Ratu Semesta Alam Timika
Kuria Maria Menerima Kabar Gembira Madura
  • Bulan Maria

 

  • Rapat Panitia HUT 50thn Senatus Malang di Aula Frateran jam 12.30
Presidium Pengantara Segala Rahmat Batu
1 Juni 2014
  1. Presidium Ratu Surga Nabire
  2. Pres. Putri Kerahiman Nabire
Presidium Pengantara Segala Rahmat Batu
  1. Regia Ratu Para Rasul Semarang
  2. Komisium Ratu Rosari Makasar
  3. Kuria Maria Menerima Kabar Gembira Madura
  4. Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul
  5. Kuria Tabut Perjanjian Jayapura
  6. Pra Kuria Maria Bintang Timur Ambon

 

Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi
  • Misa LM “ Devosi Kepada Hati Kudus Yesus
  • Rapat Panitia HUT 50thn Senatus Malang di Aula Frateran jam 12.30
Kuria Maria Angelorum Blimbing
6 Juli 2014
  1. Pres. Bintang Timur Manokwari
  2. Pres. Cermin Kekudusan Manokwari
Presidium Bintang Timur Landung Sari
  1. Regia Bunda Kristus Maumere
  2. Komisium Ratu Semesta Alam Surabaya
  3. Kuria Maria Asumpta Ijen
  4. Kuria Maria Tak Bercela Jember
  5. Kuria Ratu Para Rasul Bali
  6. Kuria Bunda Penebus Merauke

 

 

Kuria Ratu Para Rasul Bali Misa Triduum HUT 50thn Senatus Sinar Bunda Karmel Malang 4-6 Juli 2014Seminar Sehari 5 Juli 2014 Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Langsep
3 Agustus 2014 Presidium Bintang Timur Landung Sari Presidium Benteng Gading Pandaan
  1. Regia Maria Diangkat Ke surga Kupang
  2. Komisium Hati Tersuci Manado
  3. Kuria Maria Angelorum Blimbing
  4. Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi
  5. Kuria St. Perawan Maria dari Medali Wasiat Lombok
  6. Pra Kuria Ratu Semesta Alam Timika

 

Regia Ratu Para Rasul Semarang Presidium Bintang Timur Landung Sari
7 September 2014 Presidium Benteng Gading Pandaan Presidium Bunda Gereja Lawang
  1. Regia Ratu Para Rasul Semarang
  2. Komisium Ratu Rosari Makasar
  3. Kuria Maria Menerima Kabar Gembira Madura
  4. Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul Malang
  5. Kuria Tabut Perjanjian Jayapura
  6. Pra Kuria Maria Bintang Timur Ambon
Kuria Maria Tak Bercela Jember
  • HUT Legio Maria dan Pertemuan Tahunan dilaksanakan per Kuria
  • Rekoleksi

 

Presidium Tahta Kebijaksanaan Kepanjen
5 Oktober 2014 Presidium Bunda Gereja Lawang Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen Bangil
  1. Regia Bunda Kristus Maumere
  2. Komisium Ratu Semesta Alam Surabaya
  3. Kuria Maria Asumpta Ijen
  4. Kuria Maria Tak Bercela Jember
  5. Kuria Ratu Para Rasul Bali
  6. Kuria Bunda Penebus Merauke

 

Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul Malang Bulan Rosario (agar aktif di lingkungan masing-masing) Presidium Pengantara Segala Rahmat Batu
2 November 2014 Presidium Ratu Pencinta Damai Manokwari Presidium Tahta Kebijaksanaan Kepanjen
  1. Regia Maria Diangkat Ke surga Kupang
  2. Komisium Hati Tersuci Manado
  3. Kuria Maria Angelorum Blimbing
  4. Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi
  5. Kuria St. Perawan Maria dari Medali Wasiat Lombok
  6. Pra Kuria Ratu Semesta Alam Timika

 

Kuria Tahta Kebijaksanaan Banyuwangi Misa Arwah tgl 6 November 2014 Presidium Bunda Gereja Lawang
7 Desember 2014 Presidium Tahta Kebijaksanaan Kepanjen Presidium Pengantara Segala Rahmat Batu
  1. Regia Ratu Para Rasul Semarang
  2. Komisium Ratu Rosari Makasar
  3. Kuria Maria Menerima Kabar Gembira Madura
  4. Kuria Yunior Maria Ratu Para Rasul Malang
  5. Kuria Tabut Perjanjian Jayapura
  6. Pra Kuria Maria Bintang Timur Ambon
Komisium Ratu Semesta Alam Surabaya Perayaan Natal per Kuria Kuria Maria Asumpta Ijen

Catatan: *bertanggung jawab dalam persiapan ruang rapat antara lain: Altar legio, bunga, mengatur meja dan kursi rapat.

Kunjungan Senatus Sinar Bunda Karmel Malang ke Kuria Maria Medali Wasiat Mataram

Mataram, 11 – 12 Mei 2013

Dalam kunjungan tersebut diadakan pembinaan bagi kaum muda sekaligus mengenalkan legio Maria. Adapun kaum muda yang hadir pada pertemuan tersebut antara lain;  anggota aktif, auksilier, PMKRI, Mahasiswa IPDN, OMK dan Simpatisan. Tim dari Senatus yaitu Romo Dedy Sulistya, Pr (PR Senatus) dan Hotmaida S. (Wakil Ketua Senatus). Acara pembinaan dilaksanakan pada hari Sabtu 11 Mei 2013 pada Jam 19.00 – 21.00 WITA dan pada hari Minggu 12 Mei 2013 diadakan Perayaan Acies di Kuria tersebut. Setelah Acara Acies dilanjutkan dengan rapat dewan. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar, hikmat dan menyenangkan. Senatus melihat bahwa ada potensi dan harapan besar Legio Maria akan berkembang di Kuria Maria Medali Wasiat Mataram. Senatus mengucapkan banyak terimakasih kepada Romo Mariyono, Pr dan Romo Kadek, Pr yang telah mendampingi Legio Maria dengan senang hati.